Mengantri Rindu yang tak kesampaian
bagai memilih debu bersih di padang pasir
menancap sungai dalam-dalam
memilu rindu untuk kesetiaan
meski banyak cibiran yang mengolokkan
hati ini begitu rapuh untuk diceritakan
kisah ini berpeluh untuk dijalankan
terasa angin ingin ku dibawa pulang
menyaksikan nahkoda dipesisir sungai, ah
mustahil kata mereka.
Sekuat tenaga ku genggam harapan
didepan sajadah ku terperanjat dalam
linangan doa dan air mata
menyaksikan sebuah harapan di putus begitu
saja.
Aku sadar, aku manusia jalang bak kata
chairil anwar
kesana kemari hanya membawa kesialan
mematahkan beribu keyakinan
mengharap gula menjadi madu, konyol yang
haru.
Sekuat tenaga awan ku kumpulkan semangat
berjelajah sendiri melawan penat.
kutunggu didepan gerbang sejahtera, ah aku
masih jauh dari pintu gerbang itu.
kulanjutkan perjuagngan dibelakang
gerbang, ternyata gerbangnya telah dicabut
hilang tanda tempatku menunggu.
kunanti petir, hujanpun tak kutemukan
kuharap hujan aku takut banjir
ku harap panas aku takut gersang
kuharap salju, ternyata aku digaris
katulis tiwa.
Rindu memang berat, melebihi barbel 500 kg
sejurus dengan garavitasi yang semakin
bertambah kebawah.
pulpen pun tak sanggup ku genggam, kertas
ku berlubang
Rayap telah lama menjajah, satu kompi
mereka turunkan
kaki ku berlubang, ku pikir diterkam
rayap, ah ternayat tertikam pulpen yang bertambah gravitasinya
kapankah rindu ini aku simpan?
hatiku macam ruang arsip yang menyimpan kenangan
