Seperti rindu yang kuharap bertemu, dengan hujanan air mata
ku memelas sendiri di sudut ruangan kecil nan dekil, susah nian hidup ini jika
hanya menyemai kata-kata. Keadaan memalsu seperti burung yang terbang tanpa
sayap, rapuh kata mereka.
Aku sendiri menyaksikan awan gelap melangit angkasa seolah
dunia akan binasa, di ujung rindu aku bertemu denganmu seakan titik akhir, Aku
seperti kaku dengan tindihan batu tepat dibahuku, ngilu dan pilu.
Ku pusatkan harapan pada pertemuan, elok dirimu jelita
dimataku. Tak berobah penampilanmu seperti semula kita bertemu, menanti suram
yang akan memudar setapak hampir sampai pada batas nostalgia. Aku begitu
rindu dengan kisah silam yang kamu berikan sebagai pengalaman yang tak
terlupakan, sesekali aku berharap itu akan terulang, aku tak ingin cintaku
seperti zainuddin dan hayati yang dipisahkan lautan hanya karena keegoisan,
jika memang rindu yang kau rasa katakana saja tak perlu bermubazir kata dengan
nada mengelak. karena cinta itu bukan rasa yang terus kamu sembunyikan,
tapi bagaimana kamu jujur menerima keadaan.
Aku sendiri rindu dengan keputusan ku, aku bingung dengan
nada hatiku naik turun tak sesuai irama bukan karena melupakan lagunya, tapi
sedikit rapuh dengan maknanya yang mendalam dan menguras energi dalam merindu.
Aku rindu sosok dirimu yang mempunyai semangat untuk ku
bangkit, kuingat senyuman lugu dibibirmu dengan ceria dan susah dibaca menjadi
pribadimu, tapi aku benar-benar rindu, tak sanggup jariku mengikuti irama
hatiku karena rumit dengan rasa rindu.
Kamu membuatku membuka mata dalam diam, seolah-olah aku
punya motivasi untuk berjuang, iya aku punya kamu sebagai alasanku untuk
berkarya, membuktikan kata cinta dalam setiap aktifitasku, bukan sukses materi
yang ingin ku beri tapi hari yang memberi ceria meski kadang perut
merana. Karena cinta tak memandang seberapa banyak materi yang kau bawa
pulang, tetapi cinta itu seberapa banyak waktu yang kau punya untuk ceria
bersama.
Hanya untuk mengucapkan terima kasih padamu yang ku
rindukan, seperti rindunya zainuddin yang tak kesampaian, seperti harapan romeo
dan Juliet yang tak ditakdirkan, namun dirimu hanya seorang siti nurbaya yang
menerima apa adanya. Terima kasih meski berat yang menjadi filosofi rindu.
